Rabu, 28 Mei 2008

Nyandang Urip Mbathik

Saya berasal dari Solo dan nyonya dari Pekalongan. Dalam bercanda sering kami mengungkapkan, Solo dan pekalongan kalo kawin itu bagusnya bisnis batik saja. Maka terinspirasi dari hal itu, pada suatu masa di thn 2000, saya bersama istri membuka usaha kecil-kecilan dengan berdagang batik. Mungkin kalo dilihat secara materi hasilnya tidak seberapa. Tapi dari perjalanan belajar dari kehidupan dari penghidupan itu banyak sekali kekayaan khasanah hidup yang Kami dapatkan. Disini saya akan berbagi nilai-nilai hidup ini, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.
Dari perjalanan bersama Pakaian Batik ini , saya mendapatkan kenyataan bahwa manusia dalam perjalanan evolusi kehidupannya, harus diakui bahwa dari waktu ke waktu, sesungguhnya selalu mengalami proses di antara dualisme realitas. Ada saatnya sedang kuat, ada saatnya sedang lemah, ada untung dan ada rugi, ada miskin menjadi kaya, ada bodoh ada pintar, ada salah ada benar, ada suram ada cerah dst . Realita dualisme ini, sepertinya akan selalu mengiringi perjalanan kita selamanya dalam kehidupan. Tepatnya dalam bahasa kultur, realitas ini sering diungkapkan dengan `yo ngono kuwi SANDANGANE WONG URIP`.
Dari proses bisnis pakaian inilah saya mendapatkan makna Sandangan. Dari sana berikutnya memunculkan sebuah optimisme dan kehati-hatian dalam menjalani hidup. Pada suatu masa mungkin banyak kejadian yang menjalar sedemikian rupa saling menjalin yang menempatkan kita pada sebuah keadaan untuk disikapi. Mungkin bisa saja Benang-benang kejadian itu saling berkait satu sama lain, yang menempatkan kita pada sebuah kesulitan. Makin hari makin rumit dan makin ruwet, sampai mau bergerak kemana saja semakin sulit. Dalam pandangan imaginernya, benang kejadian itu telah ditenun atau tertenun menjadi sebuah sandangan bagi kita. Bisa dikatakan masa-masa seperti ini kita sedang Nyandang Susah. Bila kita selanjutnya mau berusaha menelusur satu per satu jalinan benang kejadian, dan bisa mengurainya lalu menenunnya kembali menjadi lebih baik, maka berikutnya kita bisa mendapatkan susunan sandangan kehidupan yang lebih baik untuk kita kedepannya. Bila berhasil artinya kita sudah mampu `meruwat` diri kita sendiri. Maka bergantilah episode ini menjadi lakon hidup yang akan menampilkan diri kita dengan costum kehidupan terbaiknya.
Bisa dikatakan bahwa sandangan urip itu hanya sementara. Kalau susah ya sementara, kalau senang pun juga sementara. Semua hal dengan berjalannya waktu akan berubah. Tapi yang mendasar disini adalah kemana arah perubahan itu bagi hidup kita. Apakah menuju lebih baik ataukah menjadi lebih buruk, semua tergantung kita sendiri untuk memberi bentuknya. Untuk itu oleh simbah-simbah biyen, kita diminta supaya selalu eling lan waspada. Sebab sandangan itu sangat tergantung pada sikap dan keputusan kita dalam menjalin setiap benang kejadian yang hadir dihadapan kita. Dan harus bisa menempatkan diri dengan sandangan itu disesuaikan dengan cerita yang sedang dipentaskan di panggung kehidupannya.
Dalam proses menjalin benang-benang kejadian itu, terdapat fenomena unik yang saling berimbang. Bila kita sedang susah biasanya bila kita mau benar-benar berusaha, akan datang jodohnya yang akan menggenapi cerita kita. Bila kita susah akan datang yang sedang mudah, jika kita sakit akan datang yang sedang sehat, bila kita sedang kekurangan akan datang yang sedang dalam kelebihan, dst. Jadi dengan usaha yang sungguh-sungguh ibaratnya adalah kita sedang menarik benang-benang kehidupan untuk mendatangkan solusi bagi kita. Disini bisa dikatakan usaha adalah menciptakan sebab-sebab yang layak sebagai jalan terwujudnya doa. Tapi sebaliknya, bila kita sedang dalam kemudahan, biasanya akan datang kejadian yang menarik kita pada sebuah keadaan berupa kesulitan. Bila sedang senang, berikutnya akan datang keadaan yang dalam kesedihan, bila sedang kelebihan akan ditarik oleh keadaan yang sedang kekurangan. Meski tidak langsung kejadian, atau tidak langsung menjadi tanggung jawab kita keadaan itu, tapi sepertinya kita diminta untuk bisa menyeimbangkan antara memberi dan menerima. Maka tidak bisa dipungkiri bahwa setiap yang terjadi pada kita akan terkait dengan kehidupan yang lainnya. Dan disinilah saya menemukan makna yang sesungguhnya bahwa kehidupan ini berasal dari akar yang sama yaitu Tuhan yang Maha Tunggal. Jika pada suatu peristiwa kita tidak tahu proses keterkaitannya , dan sesuatu itu datang dengan tiba-tiba, dari arah yang tak terduga, hadir masuk dalam jalinan cerita hidup kita, hal itu sering diungkapkan sebagai kebetulan, hoki, atau pertolongan itu berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, bila kejadian itu baik hasilnya bagi kita. Tapi bila kebetulan yang hadir itu adalah sesuatu yang buruk dan masuk dalam jalinan cerita hidup kita biasanya akan diungkapkan sebagai, kesialan, nasib buruk, atau ujian dan cobaan dari Tuhan Yang Maha Esa. Tapi apapun ungkapannya, yang jelas semua itu adalah realita. Akhirnya disinilah muncul kesadaran bahwa Tuhan adalah sumber realita. Atau dalam ungkapan spiritualnya `Gusti Allah iku Kasunyatan jati sangkan paraning dumadi.` Maka dalam lakon nyandang urip ini, kita tidak akan terlepas dari ujian dan cobaan, anugerah dan pertolongan. semua berjalan dengan seimbang.
Berikutnya dalam perjalanan mengisi cerita kehidupan, ini kita dihadapkan pada sebuah realita membentuk sejarah. Untuk itu dalam berbagai keadaan dan jalian cerita suka dan duka dan berbagai hukum dualisme yang ada dalam nyandang lakon urip ini, kita diharapkan mampu membentuk cerita cantik dari sebuah perjalanan hidup sebagai anak manusia. Maka diantara pasang surutnya kejadian, satu-per satu pertumbuhan dan perkembangan hidup perlu diatur iramanya. Tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek dst, yang intinya supaya hidup tidak keterlaluan. Sebab bila keterlaluan berarti kita melampaui batas alami dari tahap pertumbuhan evolusi diri kita. Unttuk itu semua diharapkan bisa berjalan secara teratur terarah sedikit demi sedikit secara proporsional ditata diantara berbagai gempuran dualisme yang ada. Disinilah saya menemukan makna Bathik `mrambat mboko sithik` ( merambat secara bertahap) menjadi sebuah nilai kebijaksanan hidup yang relevan untuk mengatur irama kehidupan ini.
Demikian sedikit pengetahuan dan pengalaman saya dalam menggali mutiara makna sebagai bekal mengarungi samudera kehidupan ini. Kurang lebihnya mohon maaf atas keterbatasan saya dalam mengungkapkannya.

Tidak ada komentar: